Sejarah Valentine II

Valentine’s Day atau dalam bahasa Indonesia disadur menjadi Hari Kasih Sayang menjadi satu momen yang membudaya di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Sebagai informasi awal dari pembahasan kita, valentine’s day ini, bukanlah budaya asli bangsa Indonesia. Jadi,.. mari kita telaah lebih lanjut sejarah dari valentine’s day ini.
Ada beberapa versi yang menjadi latar belakang munculnya suatu perayaan yang di kenal oleh seluruh bangsa di dunia sebagai Hari Kasih Sayang. Namun, pada pembahasan kita kali ini, saya hanya akan membahas 2 (dua) versi terbesar.
Dahulu kala, pada jaman Romawi Kuno diperingati perayaan untuk menghormati Dewi Juno (bagi bangsa Yunani dikenal dengan Hera) yang bagi bangsa Romwai merupakan Dewi Kesuburan Wanita. Peringatan diadakan setiap tanggal 14 Februari dan dilanjutkan pada hari berikutnya dengan Perayaan Lupercalia. Dewasa ini, para pria dan wanita dapat mengatur pertemuan dimana saja dan kapan saja, untuk kepentingan pribadi, bisnis atau apa pun juga tanpa adanya hubungan darah sekali pun. Pada jaman romawi ini, para pemuda dan gadis-gadis hidup terpisah. Kalau pun mereka bertemu, para gadis harus berjalan dengan kepala menunduk.
Istimewanya Perayaan Lupercalia ini adalah para pemuda diperkenankan menuliskan nama mereka masing-masing pada selembar kertas, kemudian dilipat dan dimasukkan ke sebuah gentong yang telah disediakan secara khusus. Kemudian para gadis, secara bergiliran mengambil selembar kertas dari dalam gentong dan menemui pemuda yang namanya tertera pada lembar kertas yang dia dapat. Berdasarkan hasil penelitian para ahli sejarah, hasil ‘penjodohan’ secara terbuka ini banyak yang berakhir pada sebuah pernikahan, namun sebagian kecil menemukan ketidak cocokkan dan memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan mereka.
Proses pendekatan ini, diwarnai dengan mengirim puisi romantis dan makan malam dengan suasana yang menarik di tengah kota dengan lampu hiasnya. Budaya ini terus berlangsung bahkan sampai saat ini, namun pada tanggal 14 Februari dinamakan menjadi Valentine’s Day dari sejarah menurut versi terbesar kedua.
Versi kedua dikatakan bahwa Valentine’s Day berasal dari nama seorang Santo yang beragama Katolik Roma yaitu Santo Valentine. Romawi pernah diperintah oleh Kaisar Claudius II, seorang kaisar yang kejam yang pada saat kerajan dipimpin olehnya terjadi perang besar (tidak dijelaskan secara detail dimana pun, perang apa yang terjadi pada saat pemerintahan Kaisar Cladius II ini). Rakyatnya menentang terjadinya perang dan tidak secara sukarela mengikuti kebijakan pemerintah yaitu Wajib Militer. Alasan masyarakat yang paling logis pada saat itu adalah bahwa mereka sudah berkeluarga dan tidak mau hal buruk terjadi pada mereka di kemudian hari sebagai akibat dari mengikuti perang tersebut. Ada juga yang beralasan karena dalam waktu dekat mereka akan segera bertunangan ataupun menikah, jadi mereka menentang Wajib Militer.
Mendengar pembangkangan yang dilakukan oleh rakyatnya, Kaisar Claudius II menjadi murka. Akhirnya dia mengeluarkan peraturan bahwa di seluruh kerajaan Roma DILARANG ADANYA PERTUNANGAN DAN/ATAU PERNIKAHAN dan semua rakyatnya yang berjenis kelamin laki-laki wajib militer. Kebijakan Kaisar yang sangat tidak toleran ini mengakibatkan banyak sekali kehancuran dan ketidak tenteraman bagi rakyatnya pada masa itu. Bahkan, setiap pemuda yang tidak bersedia meninggalkan keluarganya akan ditarik secara paksa atau dipukul untuk bersedia masuk dalam kamp-kamp pelatihan militer pada saat itu dan dikirim ke medan perang. Banyak sekali keluarga-keluarga yang kehilangan suami dan/atau anak laki-lakinya hanya karena keotoriteran Kaisar Claudius II pada saat itu.
Seorang Pastur dari Biara Kecil di daerah Roma, secara diam-diam memberikan pemberkatan pernikahan bagi pasangan-pasangan yang berniat untuk menikah dan menyembunyikan sertifikat mereka dengan baik. Hal ini berlangsung terus sampai kemudian, rahasia kecil ini terbongkar dan pastur tersebut ditangkap lalu dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah. Selama di penjara pastor tersebut berkenalan dengan anak gadis dari Kepala Sipir Penjara. Gadis itu secara rutin menemui pastor dan mereka saling bertukar cerita kesukaan juga kesedihan dari balik pintu penjara. Karena kebaikan hati dan pertolongan yang telah diberikan oleh pastor tersebut, masyarakat pada saat itu menutut pembebasannya. Kaisar Claudius II akhirnya menjatuhkan hukuman mati yaitu dipenggal kepalanya. Sehari sebelum hari kematiannya, pastor dengan nama Valentine itu membuat sebuah surat yang ditujukan kepada teman-temannya dan teristimewa untuk putri kepala sipir penjara yang dibubuhkan tulisan “from your Valentine“. Ironisnya, Kaisar Claudius menetapkan tanggal 14 Februari tahun 270 sebagai hari pelaksanaan hukuman mati bagi Pastor Valentine. Semenjak itu masyarakat menyebut hari itu sebagai Valentine’s Day dan keesokkannya merayakan Lupercalia.
Kurang lebih delapan ratus tahun kemudian, golongan Gereja Katolik Roma yang menganut PAGANISM (tidak percaya pada hal-hal mistis) menolak adanya Perayaan Lupercalia untuk memberikan persembahan kepada Dewi Cinta ataupun Dewi Kesuburan Wanita. Mereka mengangkat Pastor Valentine menjadi seorang Santo dan mendeklarasikan bahwa setiap tanggal 14 Februari adalah St. Valentine’s Day.
Secara garis besar dapat kita simpulkan, bahwa awalnya perayaan-perayaan tersebut di atas adalah suatu wujud ungkapan syukur suatu bangsa untuk berkat-berkat yang boleh mereka dapatkan. Hanya saja, mereka tidak menyikapinya sebagai seorang pengikut Kristus yang beriman hanya kepada Allah Tritunggal saja.
Seorang pujangga bernama Eleanor Whitesides menulis: “To make a valentine God took two shafts of wood and on that wood in love and anguish placed His Son, who gave His Heart that mine might be made new.” Secara bebas dapat diartikan “ Untuk menciptakan suatu valentine, Allah telah mengambil dua potong kayu dan di atas kayu itu, dengan kasih dan derita Ia menempatkan AnakNya yang telah memberikan hatiNya supaya hatiku dapat dijadikan baru. “
Inilah seharusnya yang menjadi makna Hari Kasih Sayang bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Bukan karena menghormati seorang Santo yang adalah seratus persen manusia, tapi memberikan penghargaan yang tertinggi kepada Allah yang adalah seratus persen manusia dan seratus persen Allah. Bukti kasih Allah adalah sangat nyata bagi kita manusia yang adalah “pengantin-pengantin”nya seperti sudah tertulis dalam 2 Kor 11:2. Rasul Paulus memberikan analogi, sehubungan dengan gencarnya perayaan Valentine’s Day, tentang hubungan kasih antara Kristus dengan jemaatNya (Efesus 5:25). Jemaat-jemaat Tuhan yang berkumpul menjadi satu untuk beribadah kepada Tuhan akan disebut sebagai gereja. Gereja adalah tubuh Kristus. Apabila hubungan suami istri dalam suatu keluarga retak, maka gereja akan retak dan tubuh Kristus akan retak. Namun ketika huubungan suami istri dalam membina keluarganya kuat dengan didasari oleh Firman Tuhan maka gereja pun akan kuat dan tubuh Kristus di dunia ini akan menjadi kuat. Makna Hari Kasih Sayang yang mendunia adalah memberikan ungkapan kasih yang tulus dan mendalam kepada setiap orang sebagai satu respon pengucapan syukur atas Anugerah Keselamatan yang telah diberikan Yesus kepada seluruh umat manusia di dunia tanpa kecuali.
Geliat budaya Valentine’s Day ini mulai masuk ke Indonesia diperkirakan pada akhir abad 19. Para pemuda dan pemudi Indonesia, khususnya pemuda dan pemudi Kristen umumnya membatasi makna dari Valentine’s Day adalah penyataan kasih HANYA kepada orang yang saat itu sedang dekat dengan dirinya. Biasanya penyataan-penyataan ini diungkapkan dengan memberikan bunga mawar, bingkisan coklat, boneka dan pernak-pernik lucu lainnya.
Sebagai seorang pemuda/i Kristen, sebaiknya kita tidak terlalu memberikan suatu keistimewaan tersendiri untuk Valentine’s Day ini. Karena, perayaan ini hanyalah sebuah simbol yang dahulu kala diawali dengan budaya menyembah dewa atau dewi Romawi. Dalam doktrin agama Kristen, tidak ada Allah lain selain Yesus Kristus sehingga tidak boleh ada penyembahan kepada illah-illah palsu. Mengambil makna secara teologis seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, dapat dimengerti. Namun mengagungkan hari dimana Allah sendiri tidak berfiman akan kekudusan Valentine’s Day ini adalah tidak bijaksana dan tidak beriman bagi anak-anak Tuhan.
Rasul Yohanes menulis dalam 1 Yoh 4:7-11 yang intinya berbunyi, “Marilah kita saling mengasihi, sebab KASIH ITU BERASAL DARI ALLAH; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari ALLAH dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih …. Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita dan kasihNya sempurna di dalam kita.“
Firman Tuhan sangat tegas berkata bahwa Kasih itu berasal dari Allah, bukan karena pengorbanan seorang Santo atau perlindungan Dewa atau Dewi. Dan mengasihi adalah respon kita terhadap kasih yang terlebih dahulu diberikan kepada kita. Dan dia tidak mengatakan hanya pada satu momen atau hanya beberapa kali saja, tapi selalu (saling) karena saat kita mengasihi berarti sosok Kristus terpancar dalam diri kita.
Selamat Mengasihi saudara-saudara, karena dari kehidupan kitalah setiap orang dapat melihat teladan Kristus yang ajaib. Tuhan Memberkati.

Imlek

| Tahun Baru Imlek 2560
Tahun-baru-imlek-2560
Tentang Imlek 2560, sejak abad ke-7, bangsa Cina telah datang ke bumi nusantara. Dengan demikian, masyarakat dan budaya Tionghua sudah berbaur cukup lama hingga sulit sekali membedakan mana orang Tionghua dan bukan, Mana budaya Tionghua dan yang budaya asli, yang ada di sekitar kita di Indonesia.
Termasuk dengan Perayaan kali ini, Tahun baru imlek 2560. Masyarakat Tionghua yang merantau dan tinggal, serta berbaur dengan masyarakat asli di wilayah Indonesia, juga membawa tradisi perayaan tahun Baru Cina selama ratusan tahun.Imlek atau Sin Tjia adalah perayaan para petani Cina yang berkaitan dengan pesta menyambut musim semi. Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Kegiatannya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada sang pencipta dan perayaan Cap Go Meh.

Dengan tujuan sebagai wujud Syukur dan doa harapan agar tahun depan mendapatkan rejeki yang melimpah. Perayaan dilakukan dengan sembahyang di Kelenteng dan menjamu leluhur serta bersilaturahmi dengan para kerabat, keluarga dan tetangga.
Perayaan ini juga dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat Cina. Agama Tridharma, gabungan tiga agama besar di Cina yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, Buddha yang biasanya secara ritual dilakukan bersamaan dan tempat ibadahnya disebut Kelenteng.

Selain sembahyang di kelenteng, masih banyak pernik – pernik perayaan Imlek. Hiasan seperti lampion, Angpao (isinya berupa uang) dan tentu saja makanan. Untuk makanan, dalam perayaan Imlek selalu menyajikan 12 macam masakan dan 12 macam kue sesuai dengan lambang – lambang Shio yang ada dalam penanggalan Cina. Masakan dan kue yang disajikan mepunyai makna – mana tertentu. Kue Lapis melambangkanharapan akan rejeki yang berlapis – lapis.
Kue Keranjang yang biasanya disusun ke atas dengan kue mangkok yang berwarna merah di bagian atasnya melambangkan kehidupan yang manis dan menanjak serta kian mekar.Selain itu juga ditampilkan Barongsai, kesenian khas Budaya Tionghoa dan kembang api.
Pada tahun 1901 berdirilah organisasi Tiong Hoa Hwee Kwan. Kemudian pada tahun 1939 mereka mendirikan partai Tionghoa Indonesia. Sejak itu istilah Tiong Hoa dipakai sebagai sebutan padanan bagi Cina.
Namun karena adanya gejolak politik pada tahun1965, orde baru melarang segala sesuatu yang berbau Tionghua. Dikeluarkannya Instruksi Presiden no.14 tahun 1967 menjadikan kegiatan situal budaya Cina, bahkan sampai pada penggunaan bahasa China dilarang. Maka segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan Cina sempat terhenti hingga akhirnya Indonesia memasuki masa reformasi.
Presiden Abdurahman Wahid mencabut inpres tersebut dan pada tahun 2002 dikeluarkanlah keppres tentang perayaan Imlek. Lewat Keppres No.19 tahun 2002, menetapkan tahun baru Imlek menjadi Hari Nasional.
Tau ga? Ternyata IMLEK lebih merupakan perayaan tahun baru yang gak ada hubungannya dengan kepercayaan atau agama apapun. Imlek lebih merupakan titik penanda berakhirnya musim dingin dan permulaan musim semi. Konon, pada musim semi inilah para petani mulai kembali menggarap lahannya di daratan Tiongkok sana. Inilah yang kemudian dipahami sebagai moment untuk mulai menemukan kembali berbagai harapan atas pemaknaan waktu.
Dalam praktiknya di kemudian hari ini, lahir satu kebutuhan bagi masyarakat untuk memaknai moment permulaan menanam padi tersebut dalam bentuk perayaan. Nah baru deh di dalam perayaan tersebut, muncul berbagai mitos kepercayaan yang dianggep sebagai kekuatan yang sakral dalam suasana ritual yang dijadikan moment untuk berharap.
Dalam rentang waktu ribuan tahun, berbagai perubahan cara pandang terhadap IMLEK terjadi dari generasi ke generasi. Namun inti utamanya adalah tetap sebagai sebuah tradisi yang berhubungan erat dengan pemaknaan manusia atas waktu dan harapan.
BarongsaiMenurut kepercayaan, Barongsai adalah sejenis makhluk khayalan yang bisa menolak segala sesuatu yang bisa mengganggu. Itulah sebabnya di bank atau di tempat-tempat tertentu selalu di tempatkan makhluk menyerupai singa, jadi mereka seolah-olah menjaga atau menghalau bala. Agak-agak mirip Singapore gitu deh, dimana mana banyak patung singanya kan (apa gara-gara itu ekonominya bagus terus ya???
PS: Btw, ternyata kalau pemain barongsai nya bagi-bagiin amplop angpao ke penonton itu justru minta diisi ya???? Gue kira mereka ngasih ngasih angpao isi duit gratis ke penonton . . .

Hari Raya Paskah

Hukum Taurat melukiskan tiga hari raya ziarah: Hari Raya Paskah (Ibrani: "PESAKH"), Hari Raya Pentakosta (Ibrani: "KHAG SHAVU'OT"), dan Hari Raya Tabernakel (Ibrani: "SUKOT"). Masing-masing hari raya dihubungkan dengan lingkaran agrikultural Israel, dan juga memiliki simbol-simbol teologikal.


Tiga hari raya Yahudi tersebut merupakan 'major festival' masing-masing jatuh pada :


[1] Perayaan Pesakh 15 Nisan, dimulai pada 'erev pesakh (paskah petang), 14 Nisan (Imamat 23:5).
[2] Shavu'ot (Hari Raya Pentakosta), 6 Sivan
[3] Sukot (Hari Raya Tabernakel), 15 Tishri


* Imamat 23:5
LAI TB, Dalam bulan yang pertama, pada tanggal empat belas bulan itu, pada waktu senja, ada Paskah bagi TUHAN.
King James Version (KJV), In the fourteenth day of the first month at even is the LORD's passover.
Jewish Publication Society Tanakh (JPST), In the first month, on the fourteenth day of the month at dusk, is the LORD'S passover.
Biblia Hebraic Stuttgartensia (BHS), Hebrew with vowels,
בַּחֹדֶשׁ הָרִאשֹׁון בְּאַרְבָּעָה עָשָׂר לַחֹדֶשׁ בֵּין הָעַרְבָּיִם פֶּסַח לַיהוָה׃
Translit interlinear, BAKHODESY {pada bulan} HARI'SYON {pertama itu} BE'ARBA'AH {pada empat} 'ASAR {sepuluh} LAKHODESY {kepada bulan} BEYN {antara} HA'ARBAYIM {petang} PESAKH {Paskah} LAYHOVAH {bagi TUHAN}


Menurut Kelender Yahudi Tahun 2006, Peringatan פסח - PESAKH jatuh pada hari Rabu sore, 12 April 2006. Kalangan Yudaisme menamakan hari itu sebagai ערב פסח - 'EREV PESAKH (14 Nisan).

Baru pada Kamis sore, 13 April 2006 bertepatan dengan tanggal 15 Nisan 5766 mereka merayakan פסח - PESAKH . Perayaan ini ini dikenal juga dengan nama חג המצות - KHAG HAMATSOT (Hari Raya Roti Tidak Beragi, 15 Nisan).


* Imamat 23:6
LAI TB, Dan pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya Roti Tidak Beragi bagi TUHAN; tujuh hari lamanya kamu harus makan roti yang tidak beragi.
KJV, And on the fifteenth day of the same month is the feast of unleavened bread unto the LORD: seven days ye must eat unleavened bread.
JPST, And on the fifteenth day of the same month is the feast of unleavened bread unto the LORD; seven days ye shall eat unleavened bread.
Hebrew,
וּבַחֲמִשָּׁה עָשָׂר יֹום לַחֹדֶשׁ הַזֶּה חַג הַמַּצֹּות לַיהוָה שִׁבְעַת יָמִים מַצֹּות תֹּאכֵלוּ׃
Translit interlinear, UVAKHAMISYAH {dan pada lima} 'ASAR {sepuluh} YOM {hari} LAKHODESY {kepada bulan} HAZEH {itu} KHAG {hari raya} HAMATSOT {roti tidak beragi itu} LAYHOVAH {bagi TUHAN} SYIV'AT {tujuh} YAMIM {hari} MATSOT {roti tidak beragi} TO'KHELU {engkau harus makan}



Perjamuan Paskah:


Hari Raya Paskah digunakan untuk memperingati kelahiran kembali, dan melambangkan asal-usul masyarakat Yahudi.

Perjamuan Paskah dilaksanakan menurut pola turun-temurun dalam setiap rumah tangga Yahudi. Ciri khas perjamuan Paskah ini, orang Yahudi minum empat cawan anggur (Ibrani, YAYIN), melambangkan empat kerajaan dunia. Hal ini diatur dalam Talmud Yerusalem Pesakhim 37c, Midrasy Genesis Raba 70). Umat makan Paskan secara bersandar menurut cara orang-orang kaya, melambangkan kemerdekaan mereka dari perbudakan.



Tata-cara perjamuan Paskah, sbb :


1. KADESH. Suatu berkat pembukaan dan doa yang berbunyi, "BARUKH 'ATAH ADONAI, 'ELOHEINU MELEKH HA'OLAM, BORE' PERI HAGAFEN", "diberkatilah Engkau ya TUHAN, Allah kami, raja semesta alam, yang menciptakan buah anggur" diikuti oleh minum dari cawan yang pertama dari keempat cawan anggur dan sepinggan sayur-sayuran dan kuah. Cawan yang pertama ini disebut CAWAN PENGUDUSAN (dari 4 cawan anggur yang diedarkan selama upacara tersebut). Inilah yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam Lukas 22:17.


2. Sebelum makan sayur-sayuran yang disebut KARPAS dan kuah, mereka melakukan UREKHÂTS atau pembasuhan tangan. Kemudian para peserta Perjamuan Paskah mencelupkan sayuran hijau ke dalam air garam dan memakannya. Inilah yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam Yohanes 13:26-27


3. Setelah itu, kepala keluarga mengambil satu dari tiga roti pipih tidak beragi (Ibrani "MATSAH", Yunani "AZUMOS"), lalu memecah-mecahkannya dan menyisihkan sebagian. Dalam setiap meja Perjamuan Paskah selalu disiapkan sebuah tas kain yang dinamakan MATSAH TOSY. Tas kain ini bisa berbentuk persegi atau bundar dan diletakkan di atas meja. Di dalam MATSAH TOSY ini ada tiga potong roti tidak beragi , masing-masing dimasukkan ke dalam kantong yang berbeda. Pada langkah yang disebut YAKHATS ini, roti yang ada di tengah diambil dari tempatnya dan dipecah menjadi dua. Inilah yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam Matius 26:26 dan Lukas 22:19. Potongan terbesar dibungkus dengan kain dan disisihkan untuk dimakan kemudian diakhir Perjamuan. Potongan ini dinamakan 'AFIKOMEN.


4. Kemudian kepala keluarga menceritakan kepada anggota keluarga tentang kisah Paskah. Dan nyanyian yang diambil dari Mazmur 113 & 114 dinyanyikan. Kisah penetapan Paskah (MAGID) diucapkan, Mazmur 113 dinyanyikan, MAGID ditutup dan pada saat ini cawan anggur ke-2 diisi lalu diedarkan. Cawan yang kedua yang dinamakan CAWAN MURKA diminum.


5. Kemudian acara makan utama dilaksanakan, semua orang mencuci tangannya. Sesudah berdoa untuk makanan itu dengan sebuah doa berkat berbunyi, "BARUKH 'ATAH ADONAY, 'ELOHEINU MELEKH HA'OLAM HAMOTSI LEKHEM MIN HA'ARETS", "diberkatilah Engkau ya TUHAN, Allah kami, raja semesta alam yang menghasilkan roti di bumi" maka dimakanlah makanan utama (SHULKHAN 'OREKH) yang terdiri dari daging panggang dan roti yang tidak beragi (MATSAH) dan sayuran pahit (MAROR) berurut-urutan.

* Keluaran 12:8
LAI TB, Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.
KJV, And they shall eat the flesh in that night, roast with fire, and unleavened bread; and with bitter herbs they shall eat it.
Hebrew,
וְאָכְלוּ אֶת־הַבָּשָׂר בַּלַּיְלָה הַזֶּה צְלִי־אֵשׁ וּמַצֹּות עַל־מְרֹרִים יֹאכְלֻהוּ׃
Translit, VE'AKHELU 'ET-HABASAR BALAILÂH HAZEH TSELI-'ESH UMATSOT 'AL-MERORIM YO'KHLUHÛ"


Sayur pahit ini melambangkan kepahitan selama perbudakan di tanah Mesir.


Kemudian kepala keluarga kembali mengambil roti tidak beragi (MATSAH) yang sudah disisihkan sebelumnya. Kemudian MATSAH dan MAROR dimakan bersama-sama dalam acara yang disebut KOREKH, Disusul dengan memakan 'AFIKOMEN, dan sesudah berdoa lagi maka diminumlah cawan anggur yang ke-3 yaitu CAWAN PENEBUSAN. Inilah yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam Lukas 22:20.


6. Upacara ini ditutup dengan nyanyian Mazmur 114-118 (HALEL, atau "HALELUYAH") dinyanyikan sebagai ucapan syukur dan cawan yang ke-4 (anggur terakhir) diminum, dan pintu rumah dibuka sebagai simbolik menyambut kedatangan Elia yang akan datang yang akan memberitakan kedatangan Mesias.


7. Acara terakhir adalah NIRTSAH, melantunkan kidung pujian (Matius 26:30; Markus 14:26).





Sumber :
- Yohannes/Biblika
- Handbook to the Bible, p 550-551

Kitab Ester

Para ahli sejarah menceritakan bahwa peperangan di Salamis pada tahun 480 S.M. merupakan pertempuran yang sangat penting bagi dunia saat bangsa Yunani menaklukkan armada besar raja Persia. Ditengah-tengah babak yang terkenal dalam sejarah dunia, kita menjumpai cerita tentang kecantikan dan pesona Ester di dalam cerita Alkitab. Meskipun nama Tuhan tidak disebut dalam kitab Ester, setiap lembar halaman penuh dengan ‘Tuhan’ yang tersirat di balik setiap kata.

Kitab ini diawali dengan suatu pesta yang digelar oleh tokoh dunia, Ahasyweros, dan ditutup dengan perayaan pesta tokoh pilihan Tuhan, Mordekhai. Kitab Ester diambil dari nama seorang yatim piatu bangsa Yahudi yang kemudian menjadi ratu Persia. Kitab Ester berkisar tentang peristiwa tiga perayaan: pesta raja Ahasyweros (Ester 1-2); pesta Ester (Ester 7); dan pesta Purim (Ester 9).
Kitab Ester dan kitab Rut merupakan kitab di dalam Alkitab yang menyandang nama seorang wanita. Nama ‘Ester’ memiliki arti ‘bintang dari timur’. Dua wanita elok ini ‘bergandengan tangan’ demi kepentingan umat Tuhan. Rut menjadi leluhur Sang Penebus bangsa Israel sedangkan Ester menyelamatkan umatnya sehingga memungkinkan hadirnya Sang Penebus. Dari abad ke abad Tuhan tetap melindungi bangsa ini untuk dipakai menjadi berkat bagi seluruh dunia, seperti janjinya terhadap Abraham.

Pengalaman Ester mirip dengan apa yang dialami oleh Yusuf dan Daud. Tuhan mempunyai cara tersembunyi bagi seseorang dalam mewujudkan rencana-Nya. Ester yang menawan hati terlihat jelas sebagai sosok pilihan Tuhan yang datang ke istana tepat pada saatnya (baca Ester 4:14). Kita dapat melihat ia mempertaruhkan hidupnya saat menghadap raja demi kepentingan rakyatnya dengan berkata, ”…kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (Ester 4:16).

PENOLAKAN WASTI (Ester 1). Kitab Ester dimulai dengan kisah raja Ahasyweros yang menjamu para bangsawan dan pangeran di istana kerajaannya selama 180 hari di Susan, tempat kediaman raja di musim dingin. Saat raja dan para tamu bersuka-ria dalam kemabukan, raja memanggil ratu Wasti untuk memamerkan kecantikan sang ratu di hadapan para tamu. Bagi wanita Persia, hal semacam ini tidak diperbolehkan sebab merupakan suatu penghinaan bagi kaumnya. Wasti menolak menghadap raja sehingga geramlah sang raja dan memecatnya.

PENOBATAN ESTER (Ester 2). Setelah peristiwa terjadi atas Wasti, dikumpulkannya para gadis yang elok rupa agar raja memilih untuk menggantikan Wasti. Saat Ahasyweros melihat Ester, dia memilih dan menjadikannya ratu. Ester, seorang gadis yatim piatu bangsa Yahudi yang dibawa oleh sepupunya, Moderkhai, akhirnya naik tahta di kerajaan Persia. Ester menjabat sebagai ratu selama tiga belas tahun dan pernikahannya dengan raja Persia yang terkenal telah membawa pengangkatan harga diri bagi bangsa Yahudi dan memungkinkan bagi Nehemia untuk membangun tembok Yerusalem (Nehemiah 2:1-8).

PERSEKONGKOLAN HAMAN (Ester 3 – 4). Dalam pasal 3-5 tertulis kisah pengaruh seseorang bernama Haman. Dia diangkat sebagai pembesar dengan jabatan tertinggi oleh raja Ahasyweros. Melambung dalam kebanggaan, Haman tidak dapat menoleransi kelalaian orang lain bahkan dalam hal yang sepele. Kesalahan kecil Mordekhai telah diperbesar menjadi ancaman hukuman. Mordekhai, sebagai orang Yahudi, tidak dapat memberi penghormatan kepada manusia seperti layaknya kepada Tuhan. Sikap ini membuat Haman begitu marah sehingga ia berikhtiar memusnahkan semua rakyat Yahudi dari seluruh kerajaan. Dia berusaha membuktikan kepada raja bahwa rakyat Yahudi merupakan orang-orang yang tidak setia. Bahkan Haman menyuap raja sehingga raja mengeluarkan perintah supaya orang-orang Yahudi dibinasakan. Bangsa Yahudi begitu sedih dan berkabung dan hal ini sampai ke telinga ratu Ester sehingga ia memanggil Mordekhai untuk mengetahui kebenaran keputusan tersebut. Mordekhai mengatakan ”Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” (Ester 4:14) Memang untuk melaksanakan kebenaran, kita akan menghadapi resiko yang dapat membahayakan kehidupan kita, yang mana kita diperhadapkan pada jawaban sang ratu ”…kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati”.

USAHA DARI ESTER (Ester 5). Ratu Ester telah memilih jalan yang sangat membahayakan dirinya sendiri demi kepentingan rakyatnya yang tertindas, bangsa Yahudi. Satu hal yang harus selalu kita lakukan yakni lakukanlah apa yang benar dan serahkan selanjutnya pada Tuhan. Kegagalan bukanlah dosa akan tetapi tidak beriman merupakan dosa. Ada saatnya bagi kita untuk bertindak dan bertindaklah saat Tuhan berbicara! Meskipun Ester menjadi ratu dari raja besar, dia tidak melupakan Mordekhai yang telah membesarkannya sejak masa kanak-kanak. Merupakan tindakan yang berani saat Ester memasuki hadirat sang raja tanpa diundang, tetapi dia telah diterima oleh raja dan permohonannya dikabulkan. Akhirnya Haman dihukum gantung sedangkan Mordekhai diangkat oleh raja untuk menggantikan Haman.

PEMBEBASAN BANGSA YAHUDI (Ester 6-10). Kitab Ester ditutup dengan cerita tentang penetapan pesta Purim and pengangkatan Mordekhai untuk mengisi posisi Haman. Mordekhai menjadi orang kedua setelah raja Persia. Pesta Purim merayakan pembebasan bangsa Yahudi dari bahaya yang mengerikan. Pesta itu merupakan Hari ucapan syukur bagi umat pilihan Tuhan karena Ia senantiasa membebaskan umat-Nya dari bahaya dan perbudakan.

Kitab Ester merupakan rantai penting tentang peristiwa–peristiwa yang menceritakan pembentukan kembali bangsa Ibrani di tanah mereka sendiri dalam mempersiapkan kedatangan Mesias ke dalam dunia ini.

Adapun karakter Ester dapat dibaca dalam:

Ester 2:15 … cantik dan sederhana
Ester 2:9-17; 5:1-3 … menawan hati
Ester 2:10 … patuh dan penurut
Ester 4:16 … rendah hati
Ester 7:6 … berani
Ester 2:22; 8:1-2; 7:3-4 … setia dan konstan

Story of Muhammad

Kita lihat lebih jauh pada kehidupan pribadi Muhammad. Secara historis, dapat kita lihat kecenderungan beliau dalam menyelesaikan suatu konflik melalui kehendak nalurinya sendiri. Tak jarang, kekerasan dan pembunuhan dijadikan tindakan akhir dalam menghabisi lawan-lawannya. Sangat ironis memang, dengan konsekuensi beliau sebagai seorang "nabi" menurut kepercayaan Islam (tentu, bila saja ini benar). Selain itu, tindakan penghabisan terakhir yang banyak dilakukan Muhammad, cenderung mengindikasikan adanya natur balas dendam yang sangat besar dalam kepribadiannya.

Berikut beberapa quote yang terambil dari berbagai sumber Islam sendiri yang berkaitan dengan masalah ini.

Sebagai awal, terlepas dari praduga dan hipotesa bahwa Muhammad seorang teroris, beliau mengaku telah mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengumumkan perang terhadap siapa pun yang menolak menerima Islam :

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan tidak mematuhi larangan Allah dan rasulNya, dan tidak beragama yang benar, mereka itu dari kelompok penerima Kitab sampai mereka membayar pajak secara sukarela dan tunduk" (surah 9 at-Taubah 29)

Perintah ini agaknya dipandang dan diinterpretasikan secara bias oleh Muhammad untuk memberikan justifikasi bagi tindakan-tindakan kekerasan dan pembunuhan yang dilakukannya.

Pembunuhan Atas Asma binti Marwan

Setelah hijrah ke Madinah, Muhammad melakukan pembunuhan terhadap orang-orang tertentu yang tak disukainya, termasuk di dalamnya Asma, seorang wanita setempat yang mengutuk perbuatan keji Muhammad dalam pembunuhan yang telah terjadi sebelumnya, yaitu yang menimpa diri Abu Afak (akan dipaparkan lebih lanjut dalam paper ini).

Pada awalnya, Asma melontarkan pernyataan dan tuduhan yang tak menyenangkan kaum Muslimin perihal pembunuhan tersebut. Menurutnya, adalah suatu kerendahan bila sukunya harus tunduk dan taat kepada Muhammad dan pengikutnya, yang diseburnya sebagai ‘manusia lapar yang menantikan kaldu masakan’ :
UMAYR B. `ADIYY'S JOURNEY TO KILL `ASMA' D. MARWAN She was of B. Umayyya b. Zayd. When Abu `Afak had been killed she displayed disaffection. `Abdullah b. al-Harith b. Al-Fudayl from his father said that she was married to a man of B. Khatma called Yazid b. Zayd. Blaming Islam and its followers she said:
I despise B. Malik and al-Nabit and `Auf and B. al-Khazraj. You obey a stranger who is none of yours, One not of Murad or Madhhij. {1} Do you expect good from him after the killing of your chiefs Like a hungry man waiting for a cook's broth? Is there no man of pride who would attack him by surprise And cut off the hopes of those who expect aught from him? Hassan b. Thabit answered her: Banu Wa'il and B. Waqif and Khatma Are inferior to B. al-Khazrahj. When she called for folly woe to her in her weeping, For death is coming. She stirred up a man of glorious origin, Noble in his going out and in his coming in. Before midnight he dyed her in her blood And incurred no guilt thereby. (Sirat Rasul Allah, A. Guilaume's translation "The Life of Muhammad" page 675, 676)

Atas protes tersebut, Asma lalu dibunuh. Abu Afak adalah seorang pria lanjut usia yang dibunuh atas perintah Muhammad karena cercaan yang dilontarkan kepadanya :

Abu Afak, a man of great age (reputedly 120 years) was killed because he lampooned Mohammad. The deed was done by Salem b. 'Omayr at the behest of the Prophet, who had asked, "Who will deal with this rascal for me?" The killing of such an old man moved a poetess, Asma b. Marwan, to compose disrespectful verses about the Prophet, and she too was assassinated.("23 Years; A Study of the Prophetic Career of Mohammad", by Ali Dashti, Mazda Press, 1994, p. 100)

Dengan cara apa Asma dibunuh?

Menurut Kitab-al-Tabaqat al-Kabir, pembunuhan dijalankan oleh Umayr Ibn Adi, seorang Muslim tuna netra dengan cara menyelinap ke rumah Asma di waktu malam ketika wanita itu tengah menyusui bayinya. Setelah berhasil memisahkan bayi itu dari ibunya, Umayr menghunjamkan pedangnya ke dada Asma hingga menembus punggungnya. Mendengar kematian Asma, Muhammad memuji Umayr atas perbuatannya dan memanggilnya "yang melihat" (‘the seeing’). Terhadap Asma yang telah meninggal, pun Muhammad masih menghinanya dengan berkata, "dua ekor kambing akan mengarahkan pantat membelakanginya". Artinya, takkan ada yang peduli terhadap kematiannya (Asma) :

SARIYYAH OF `UMAYR IBN `ADI

Then (occurred) the sariyyah of `Umayr ibn `Adi Ibn Kharashah al-Khatmi against `Asma' Bint Marwan, of Banu Umayyah Ibn Zayd, when five nights had remained from the month of Ramadan, in the beginning of the nineteenth month from the hijrah of the apostle of Allah. `Asma' was the wife of Yazid Ibn Zayd Ibn Hisn al-Khatmi. She used to revile Islam, offend the prophet and instigate the (people) against him. She composed verses. Umayr Ibn Adi came to her in the night and entered her house. Her children were sleeping around her. There was one whom she was suckling. He searched her with his hand because he was blind, and separated the child from her. He thrust his sword in her chest till it pierced up to her back. Then he offered the morning prayers with the prophet at al-Medina. The apostle of Allah said to him: "Have you slain the daughter of Marwan?" He said: "Yes. Is there something more for me to do?" He [Muhammad] said: "No. Two goats will butt together about her. This was the word that was first heard from the apostle of Allah. The apostle of Allah called him `Umayr, "basir" (the seeing). (Ibn Sa`d's Kitab al-Tabaqat al-Kabir, translated by S. Moinul Haq, volume 2, page 31)

Ya, Umayr melakukan perbuatannya itu di tengah malam yang gelap, karena perbuatan itu adalah perbuatan yang jahat, sehingga tidak nampak dalam kegelapan. Ini mengingatkan kita pada apa yang pernah dikatakan Yesus dalam Alkitab berikut ini :

"manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak" (Yohanes 3:19-20)

Pembunuhan atas Shubaybah

Shubaybah adalah seorang pedagang Yahudi. Muhammad memerintahkan untuk melakukan pembunuhan atas pria-pria Yahudi bila kaum Muslimin memenangkan peperangan. Malang, ini terjadi pada diri Shubaybah.

Sunan Abu Dawud, Book 19, Number 2996:

Narrated Muhayyisah:
The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) said: If you gain a victory over the men of Jews, kill them. So Muhayyisah jumped over Shubaybah, a man of the Jewish merchants. He had close relations with them. He then killed him. At that time Huwayyisah (brother of Muhayyisah) had not embraced Islam. He was older than Muhayyisah. When he killed him, Huwayyisah beat him and said: O enemy of Allah, I swear by Allah, you have a good deal of fat in your belly from his property.

Yang menyedihkan, Shubaybah sebenarnya memiliki hubungan dekat dengan kerabat kaum Muslimin. Kedekatan hubungan ini harus dikesampingkan demi fanatisme agama yang diakhiri dengan pembunuhan atas dirinya, hanya karena ia seorang Yahudi. Suatu sikap intoleransi yang sungguh memprihatinkan.

Pembunuhan atas Ibn Sunayna

Masih terhadap Yahudi. Ibn Sunayna juga adalah seorang pedagang Yahudi yang menjadi korban akibat hubungan bisnisnya dengan Muhayyisa, seorang Muslim. Berdasarkan perintah pembunuhan terbuka yang disampaikan Muhammad, Muhayyisa menghabisi rekan dagangnya tersebut.

THE AFFAIR OF MUHAYYISA AND HUWAYYISA

The apostle said, 'Kill any Jew that falls into your power.' Thereupon Muhayyisa b. Mas`ud leapt upon Ibn Sunayna, a Jewish merchant with whom they had social and business relations, and killed him. Huwayyisa was not a Muslim at the time though he was the elder brother. When Muhayyisa killed him Huwayyisa began to beat him, saying, 'You enemy of God, did you kill him when much of the fat on your belly comes from his wealth?' Muhayyisa answered, 'Had the one who ordered me to kill him ordered me to kill you I would have cut your head off.' He said that this was the beginning of Huwayyisa's acceptance of Islam. The other replied, 'By God, if Muhammad had ordered you to kill me would you have killed me?' He said, 'Yes, by God, had he ordered me to cut off your head I would have done so.' He exclaimed, 'By God, a religion which can bring you to this is marvellous!' and he became a Muslim. I was told this story by a client of B. Haritha from the daughter of Muhayyisa from Muhayyisa himself. Muhayyisa composed the following lines on the subject:
My mother's son blames me because if I were ordered to kill him, I would smite his nape with a sharp sword, A blade white as salt from polishing. My downward stroke never misses its mark. It would not please me to kill you voluntarily Though we owned all Arabia from north to south. (Sirat Rasul Allah as translated by A. Guillaume, The Life of Muhammad, page 369)

Pembunuhan atas diri Ka’b bin al-Ashraf

Muhammad menuduh Ka’b telah menyakiti dirinya dan Islam. Ia lalu menawarkan permintaan untuk menghabisi nyawanya. Maslama memenuhi "panggilan berdarah" ini.

BUKHARI, VOLUME 5, #369

Narrated Jabir Abdullah:
Allah's messenger said "Who is willing to kill Ka`b bin al-Ashraf who has hurt Allah and His apostle?" Thereupon Maslama got up saying, "O Allah's messenger! Would you like that I kill him?" The prophet said, "Yes". Maslama said, "Then allow me to say a (false) thing (i.e. to deceive Ka`b). The prophet said, "You may say it."
Maslama went to Ka`b and said, "That man (i.e. Muhammad) demands Sadaqa (i.e. Zakat) [taxes] from us, and he has troubled us, and I have come to borrow something from you." On that, Ka`b said, "By Allah, you will get tired of him!" Maslama said, "Now as we have followed him, we do not want to leave him unless and until we see how his end is going to be. Now we want you to lend us a camel load or two of food." Ka`b said, "Yes, but you should mortgage something to me." Maslama and his companion said, "What do you want?" Ka`b replied, "Mortgage your women to me." They said, "How can we mortgage our women to you and you are the most handsome of the Arabs?" Ka`b said, "Then mortgage your sons to me." They said, "How can we mortgage our sons to you? Later they would be abused by the people's saying that so and so has been mortgaged for a camel load of food. That would cause us great disgrace, but we will mortgage our arms to you." Maslama and his companion promised Ka`b that Maslama would return to him. He came to Ka`b at night along with Ka`b's foster brother, Abu Na'ila. Ka`b invited them to come into his fort and then he went down to them. His wife asked him, "Where are you going at this time?" Ka`b replied, None but Maslama and my (foster) brother Abu Na'ila have come." His wife said, "I hear a voice as if blood is dropping from him." Ka`b said, "They are none by my brother Maslama and my foster brother Abu Na'ila. A generous man should respond to a call at night even if invited to be killed."
Maslama went with two men. So Maslama went in together with two men, and said to them, "When Ka`b comes, I will touch his hair and smell it, and when you see that I have got hold of his head, strike him. I will let you smell his head."
Ka`b bin al-Ashraf came down to them wrapped in his clothes, and diffusing perfume. Maslama said, "I have never smelt a better scent than this." Ka`b replied, "I have got the best Arab women who know how to use the high class of perfume." Maslama requested Ka`b "Will you allow me to smell your head?" Ka`b said "yes." Maslama smelt it and made his companions smell it as well. Then he requested Ka`b again, "Will you let me (smell your head)?" Ka`b said "Yes". When Maslama got a strong hold of him, he said (to his companions) "Get at him!" So they killed him and went to the prophet and informed him."

Pembantaian "Sepuluh Orang Mekkah"

Berhasil merebut Mekkah, Muhammad makin berkuasa dan bertindak apa pun untuk untuk mencapai keinginannya. Memang, Mekkah tak dihancurkan atau penduduknya dibinasakan, namun Muhammad agaknya menaruh kedendaman terhadap sepuluh orang musuh pribadinya yang dinilai telah menyakiti dirinya atas penghinaan yang mereka lontarkan kepadanya pada tahun-tahun sebelumnya. Seperti biasa, Muhammad tak melakukan sendiri perbuatan keji ini, melainkan memakai tangan oknum lain (Muslim) yang loyal kepadanya untuk memenuhi "panggilan berdarah" ini.

Abdullah, pernah menentang kredibilitas Al Qur’an, sekalipun ia seorang Muslim. Ia lalu dibunuh oleh golongan Ansar yang saat itu menyertai Muhammad (terlalu banyak untuk menceritakan sepuluh warga Mekkah yang sering disebut "The Meccan Ten" ini satu per satu, saya ambil kisah Abdullah sebagai sampel) :

"The last man named [in the list of people to be killed] had been one of the scribes employed at Medina to write down the 'revelations'. On a number of occassions, with Muhammad's consent, he changed the closing words of verses. For example, when Muhammad said "And God is mighty and wise", Abdullah Sarh suggested 'knowing and wise', and the prophet answered that there was no objection. Having observed a succession of changes of this type, Abdullah renounced Islam on the ground that the revelations, if from God, could not be changed at the prompting of a scribe such as himself. After his apostasy, he went to Mecca and joined the Qorayshites." (Ali Dashti', "23 Years, A study of the prophetic career of Muhammad", page 98)

Sekalipun Muhammad telah memberikan grasi kepada Abdullah, dirinya masih tetap terdiam dan menunggu hingga salah seorang pengikutnya menawarkan diri untuk memenggal kepala Abdullah. Muhammad lalu berdalih, bahwa dirinya sebagai rasul takkan pernah mengeluarkan perintah membunuh dengan cara menunjuk (mengutus) orang secara langsung dan terbuka (eksplisit).

"The apostle had instructed his commanders when they entered Mecca only to fight those who resisted them, except a small number who were to be killed even if they were found beneath the curtains of the Kaba. Among them was Abdullah Sa'd, brother of the B. Amir Luayy. The reason he ordered him to be killed was that he had been a Muslim and used to write down revelation; then he apostatized and returned to Quraysh [Mecca] and fled to Uthman Affan whose foster brother he was. The latter hid him until he brought him to the apostle after the situation in Mecca was tranquil, and asked that he might be granted immunity. They allege that the apostle remained silent for a long time till finally he [Muhammad] said yes [granting Abdullah immunity from the execution order].
When Uthman had left he [Muhammad] said to his companions who were sitting around him, "I kept silent so that one of you might get up and strike off his head!" One of the Ansar said, "Then why didn't you give me a sign, O apostle of God?" He answered that a prophet does not kill by pointing."
(Ibn Ishaq, Sirat Rasulullah, ed. by Ibn Hisham, tr. by A. Guillaume, p. 550)

Pembunuhan atas Umaiya bin Khalaf Abi Safwan

Volume 4, Book 56, Number 826:
Narrated 'Abdullah bin Mas'ud:
Sa'd bin Mu'adh came to Mecca with the intention of performing 'Umra, and stayed at the house of Umaiya bin Khalaf Abi Safwan, for Umaiya himself used to stay at Sa'd's house when he passed by Medina on his way to Sham. Umaiya said to Sad, "Will you wait till midday when the people are (at their homes), then you may go and perform the Tawaf round the Ka'ba?" So, while Sad was going around the Ka'ba, Abu Jahl came and asked, "Who is that who is performing Tawaf?" Sad replied, "I am Sad." Abu Jahl said, "Are you circumambulating the Ka'ba safely although you have given refuge to Muhammad and his companions?" Sad said, "Yes," and they started quarreling. Umaiya said to Sad, "Don't shout at Abi-l-Hakam (i.e. Abu Jahl), for he is chief of the valley (of Mecca)." Sad then said (to Abu Jahl). 'By Allah, if you prevent me from performing the Tawaf of the Ka'ba, I will spoil your trade with Sham." Umaiya kept on saying to Sad, "Don't raise your voice." and kept on taking hold of him. Sad became furious and said, (to Umaiya), "Be away from me, for I have heard Muhammad saying that he will kill you." Umaiya said, "Will he kill me?" Sad said, "Yes." Umaiya said, "By Allah! When Muhammad says a thing, he never tells a lie." Umaiya went to his wife and said to her, "Do you know what my brother from Yathrib (i.e. Medina) has said to me?" She said, "What has he said?" He said, "He claims that he has heard Muhammad claiming that he will kill me."
She said, By Allah! Muhammad never tells a lie." So when the infidels started to proceed for Badr (Battle) and declared war (against the Muslims), his wife said to him, "Don't you remember what your brother from Yathrib told you?" Umaiya decided not to go but Abu Jahl said to him, "You are from the nobles of the valley of Mecca), so you should accompany us for a day or two." He went with them and thus Allah got him killed.

Pembunuhan atas Kinana bin al-Rabi

Kinana adalah seorang kepala suku yang mendapat tugas menyimpan harta kekayaan milik Yahudi al-Nadir di Khaibar. Dalam penjarahan terhadap perkampungan warga Yahudi di Khaibar, Muhammad memaksa Kinana untuk menyerahkan seluruh harta kekayaan milik sukunya yang ia simpan, dan menyuruh mereka meninggalkan daerah itu. Namun Kinana tak bersedia memenuhi permintaan tersebut. Bahkan diduga ia telah menyembunyikan beberapa bagian darinya di sebuah puing-puing reruntuhan bangunan. Setelah Muhammad memerintahkan memeriksanya, harta itu ditemukan di sana, sementara Kinana tak mengakui sebagian yang lain yang telah disimpannya di suatu tempat. Tragis, untuk membuatnya mengaku, Muhammad lalu memerintahkan al-Zubayr untuk menyiksanya dengan besi panas pada dada laki-laki itu hingga ia nyaris tewas. Kinana lalu dihabisi tak lama kemudian dengan dipenggal kepalanya oleh Muhammad Maslama, seorang pengikut Muhammad yang lain.

Kinana b. al-Rabi`, who had the custody of the treasure of B. al-Nadir, was brought to the apostle who asked him about it. He denied that he knew where it was. A Jew came (T. was brought) to the apostle and said that he had seen Kinana going round a certain ruin every morning early. When the apostle said to Kinana, "Do you know that if we find you have it I shall kill you?" he said "Yes". The apostle gave orders that the ruin was to be excavated and some of the treasure was found. When he asked him about the rest he refused to produce it, so the apostle gave orders to al-Zubayr b. `Al-Awwam, "Torture him until you extract what he has," so he kindled a fire with flint and steel on his chest until he was nearly dead. Then the apostle delivered him to Muhammad b. Maslama and he struck off his head, in revenge for his brother Mahmud. (Ibn Hisham, "Sirat Rasulallah", as translated by A. Guillaume under the title "The Life of Muhammad", page 515. "T." refers to the reading according to al-Tabari).

Perhatikan perintah Muhammad di atas, "Torture him until you extract what he has" . Muncul suatu pertanyaan besar dalam nurani terdalam kita sebagai manusia yang masih beradab, demi ambisi mendapatkan harta kekayaan materi, seorang manusia harus disiksa sedemikian rupa. Kita bertanya, "manusia macam apakah yang tega melakukan hal itu?". Pantaskah dengan semua kebiadaban ini, Muhammad disebut sebagai ‘nabi’? Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Alkitab (Bible) berikut ini :
"Tetapi matamu dan hatimu hanya tertuju pada pengejaran untung, kepada penumpahan darah orang yang tak bersalah, kepada pemerasan, dan kepada penganiayaan!" (Yeremia 22:17) Sampai disini, masih banyak musuh-musuh pribadi Muhammad yang tewas di tangan beliau, dan tak akan cukup untuk diceritakan dalam paper ini satu per satu. Apakah ini suatu teror? Ya, rentetan pembunuhan berdarah ini tentu menimbulkan teror berantai yang menghinggapi mereka yang tek sejalan dengan Muhammad pada waktu itu. Menebar teror, terkadang menyenangkan bagi orang-orang tertentu seperti Muhammad.

Kekufuran Membinasakan Sesama Muslim : Sebuah Ironi?

Muslim membunuh Muslim? Tampaknya janggal dan ironis. Namun agaknya memang demikianlah yang terjadi terhadap beberapa orang musuh pribadi Muhammad di atas. Beberapa di antaranya adalah Muslim, sekalipun tak sejalan dengan dirinya. Padahal, Muhammad lupa, bahwa dirinya pernah mengatakan bahwa menganiaya sesama Muslim adalah perbuatan kafir :

Narrated 'Abdullah:

Allah's Apostle said, "Abusing a Muslim is Fusuq (i.e., an evil-doing), and killing him is Kufr (disbelief)." (Sahih Bukhari 8.70, Sahih Bukhari 9.197)

Sungguh ironis!
BENIH-BENIH TERORISME

Terorisme sebenarnya bukan barang baru di dunia ini. Banyak latar belakang sejarah yang telah mendorong lahirnya aktivitas ini. Sejalan dengan perkembangan paham-paham eksklusivitas, ideologi radikal tertentu, politik aliran, primordialisme, dan bahkan fanatisme agama, terorisme seringkali menjadi ekspresi perlawanan tertutup yang menghindari konflik secara frontal. Tak mengherankan bila terorisme seringkali dinilai sebagai suatu tindakan kepengecutan, mengingat pelakunya tak pernah mengungkapkan identitasnya secara terbuka. Padahal, korban tindakan semacam ini pada umumnya adalah warga sipil yang tak berdosa.

Peter dan Yenny Salim mendefinisikan terorisme sebagai berikut :

Penggunaan kekerasan atau ancaman untuk menurunkan semangat, menakut-nakuti, dan menaklukkan, terutama untuk tujuan politik

Dari definisi di atas, agaknya memang tujuan terorisme adalah semata-mata politik. Namun dalam perkembangannya, terorisme telah banyak dipakai sebagai alat untuk menakut-nakuti siapa pun juga yang dianggap sebagai pihak yang berseberangan dengan peneror. Berikut beberapaaksi terorisme dan kekerasan yang pernah dilakukan oleh komunitas Islam di beberapa tempat di dunia dalam kurun waktu sejarah sepuluh tahun terakhir :

1. Pada tahun 1983, presiden Mesir, Anwar Sadat, tewas dibunuh oleh kelompok ekstrimis Muslim yang menamakan dirinya "Persaudaraan Muslim". Sadat -bersama dengan PM Israel Menachem Begin- yang mendapat Nobel Perdamaian tahun 1978 dinilai terlalu lunak dalam perjanjian Camp David.

2. Menurut Kantor Departemen Luar Negeri AS Bagian Kontra Terorisme, selam tahun 1985 telah terjadi lebih dari 800 teror internasional dengan 2.223 korban. Fakta-fakta yang diperoleh menunjukkan kebanyakan pelakunya ialah kelompok fundamentalis Islam.

3. Hingga 12 bulan (satu tahun) setelah kematian Muhammad, masih terjadi penindasan terhadap suku-suku Arab untuk menerima Islam

4. Kurang lebih 1.000.000 umat Kristen Armenia dibantai secara brutal oleh penguasa Islam Turki pada awal abad ke-20.

5. Ushari Muhammad dan Sulaeman Ali Baldo dari Universitas Khartoum, Sudan melaporkan dalam laporan 23 halaman tertanggal 28 Maret 1987, bahwa lebih dari 1.000 warga kota Dinka, termasuk perempuan dan anak-anak dibunuh di kota Diem (Sudan Barat) tahun 1987.

6. Surat kabar "The Baptist Record" tanggal 5 November 1987 melaporkan pembunuhan atas puluhan pendeta dan pengrusakan gereja di Sudan akibat diberlakukannya syariat Islam di negara itu sejak tahun 1983.

7. Sejak Front Nasional Islam (NIF) merebut kekuasaan di Sudan tahun 1989, penganiayaan terhadap umat Kristen semakin menjadi-jadi. Sheik Eltahin, kepala Sekolah Al Qur’an Om Duan menyatakan, bahwa Sudan akan menjadi cahaya Islam bagi seluruh dunia. Sheik Hassan al-Turabi, sekretaris NIF menyatakan dengan arogan, bahwa kekuatan Islam telah mencapai kekuatan dan kebangunannya saat ini, dan tak seorang pun dapat menghentikannya :

"I have no doubt that the Islamic movement now is a strong movement of revival right across this world everywhere. And I am sure that those who are in power, who would like to stop this movement, have no future whatever.!

Islamisasi sekaligus kulturisasi Arab telah dijalankan. Pemerintah mengumumkan jihad terhadap kekristenan di Sudan selatan. Ironisnya, menurut Stephen Matuba, misionaris Kristen Sudan, gereja di negara itu tumbuh 10 persen per tahun. Ini pertumbuhan gereja paling pesat di wilayah Afrika dalam satu abad terakhir!

8. Sana’a, Yaman. Surat kabar Compass, Istanbul tertanggal 5 Juli 2000 melaporkan, bahwa Mohammed Omer Haji, 27 tahun, seorang mantan haji yang adalah pengungsi Somalia, telah meninggalkan Islam dan memeluk agama Kristen. Setelah dijebloskan ke penjara Mansoora, ia diberi ultimatum selama satu minggu oleh pengadilan agama kota Tawahi (pengadilan Islam setempat) untuk kembali kepada Islam. Menurut hakim Gamal Mohammad Omar, bila tuntutan ini tak dipenuhi, Omar Haji akan dijatuhi hukuman mati. Ketika diperiksa, Haji diketahui telah menjadi Kristen selama dua tahun, dan mengganti namanya menjadi George.

9. Tanggal 7 Januari, 15 orang warga Filipina beragama Katolik ditangkap oleh "muttawa", (polisi agama Arab Saudi) karena menjalankan misa kudus di rumah seorang imigran bernama Sabalista Abreu. Lima orang di antaranya adalah anak-anak, yaitu Paul, 6, John, 4, Kristel, 12, Aaron, 10, and Keilah, 2. Mereka tak diizinkan untuk dijenguk dan mendapatkan akses diplomatik.

10. Pada malam tahun baru 2000, akibat perkara kecil antara seorang pemilik toko dan pelanggannya, desa Al Kosheh di Mesir yang mayoritas penghuninya adalah Kristen Koptik, dibakar massa dan 20 orang warganya dibunuh. Dua di antaranya dibakar setelah dihabisi. Pastor Youanas yang dikirim oleh Paus Shenouda III ke lokasi kejadian untuk memimpin upacara pemakaman, justru dicegat oleh patroli polisi setempat dengan tuduhan menyelundupkan senjata bagi warga Kristen setempat. Tak disangkal lagi, motif kejadian ini dimotori juga oleh sentimen agama dan sikap intoleransi yang begitu sengit. (Majalah Al Kiraza, 21 Januari 2000)

11. Tanggal 11 September 2001, aksi terorisme yang sangat tragis dalam sejarah terjadi. Begitu memilukan dan lekat dalam ingatan kita, ketika sekelompok teroris yang tak berani bertanggungjawab telah meruntuhkan gedung kembar (menara) World Trade Center (WTC) di kota New York, dengan cara menabrakkan dua pesawat komersial yang telah lebih dahulu mereka bajak. Sementara itu, satu pesawat yang lain menabrak gedung pusat pertahanan Pentagon di Washington D.C. Diperkirakan 4.000 orang tewas dalam peristiwa paling berdarah itu. Tragedi ini merupakan serangan terbesar kedua di Amerika Serikat setelah serbuan militer Jepang melanda Pearl Harbor 56 tahun sebelumnya. Dari hasil penyelidikan, terungkap bahwa para pelakunya adalah warga keturunan Arab yang diduga kuat menjalankan aksinya atas dasar motif fundamentalisme dan semangat jihad radikal. Pernyataan persatuan komunitas Muslim AS yang mengutuk tindakan ini dinilai sebagai retorika belaka oleh sebagian besar warga AS.

dan masih banyak lagi aksi-aksi terorisme Islam yang diwarnai dengan semangat jihad yang takkan cukup tertampung disini.

Pewahyuan dan Otoritas Perjanjian Lama

Yesus dan rasul-rasul dalam berkhotbah sering mengambil ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama, tetapi kadang-kadang kita sering mengabaikan tentang pengajaran Yesus dan rasul-rasul mengenai Perjanjian Lama. Jika Yesus mengajarkan bahwa Perjanjian Lama adalah perkataan Tuhan yang diinspirasikan, dan dengan bukti keilahian-Nya maka hal ini menegaskan bahwa Perjanjian Lama adalah wahyu Tuhan dalam bentuk tulisan.

Pengajaran Perjanjian Lama mengenai otoritasnya

Sejak awal sekali, Perjanjian Lama yang diberikan melalui Musa diperlakukan suci dan diletakkan dalam tabut Tuhan (Ulangan 10:2) kemudian diletakkan dalam Bait Allah (1 Raja-raja 8:9). Tulisan yang bersifat nubuat juga diletakkan dalam kumpulan tulisan tersebut (Yosua 24:26; 1 Samuel 10:25). Musa menyatakan bahwa tulisan-tulisannya berasal dari Tuhan (Keluaran 20:1; Imamat 1:1; Bilangan 1:1; Ulangan 1:3), dan bagian selanjutnya dari Perjanjian Lama mengenali otoritas Tuhan dalam tulisan Musa (Yosua 1:7-8; 1 Samuel 12:6; Daniel 9:11; Nehemia 13:1). Setelah Musa, muncul nabi-nabi yang meneruskannya dan mempunyai pernyataan "Berfirmanlah Allah". Pada hampir bagian akhir sejarah Perjanjian Lama, kumpulan tulisan-tulisan itu disebut sebagai buku dari Musa dan nabi-nabi yang memiliki otoritas Tuhan (Daniel 9:2; Zakaria 7:12).

Pengajaran Perjanjian Baru mengenai otoritas Perjanjian Lama

Dengan berbagai cara, Yesus dan para penulis Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Perjanjian Lama adalah perkataan Tuhan. Kadang-kadang mereka berbicara mengenai Perjanjian Lama secara keseluruhan, dalam kesempatan lain mereka berbicara mengenai bagian tertentu bahkan mengenai kata tertentu, tata bahasa, atau bagian dari kata yang memiliki otoritas Tuhan.

a. Pengajaran Perjanjian Baru mengenai otoritas Tuhan dalam Perjanjian Lama secara kesuluruhan

2 Timotius 3:16 menyatakan 'Segala tulisan yang diilhamkan Allah' yang mengacu kepada keseluruhan Perjanjian Lama.
Perjanjian Baru juga menyebut Perjanjian Lama sebagai Kitab Suci, misal Yesus mengatakan 'Kitab Suci tidak dapat dibatalkan' (Yohanes 10:35), 'kamu tidak mengerti Kitab Suci' (Matius 22:29).
Paulus menyebut Perjanjian Lama sebagai firman Allah (Roma 3:2).
Perjanjian Lama disebut sebagai hukum Taurat yang berotoritas (Yohanes 10:34; Yohanes 12:34).
Kalimat 'Apa yang tertulis dalam hukum Taurat harus digenapi' (Matius 5:17; Lukas 24:44) menunjukkan otoritas Tuhan dari Perjanjian Lama.

b. Pengajaran Perjanjian Baru mengenai bagian tertentu dari Perjanjian Lama

Biasanya Perjanjian Lama dibagi menjadi 2 : Hukum Taurat dan kitab nabi-nabi. Hukum Taurat adalah 5 buku pertama yang ditulis Musa . Hukum Taurat ini disebut oleh Perjanjian Baru sebagai perkataan Allah (2 Korintus 3:15; Kisah Para Rasul 13:39; Markus 12:26). Perkataan nabi-nabi dimasukkan sebagai bagian selanjutnya Perjanjian Lama (Yohanes 1:45; Lukas 18:31).
Dalam 2 Petrus 1:21 sangat jelas menyatakan bahwa tulisan nubuat berasal dari Tuhan, "sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah".

c. Pengajaran Perjanjian Baru mengenai otoritas Tuhan pada bagian tertentu Perjanjian Lama

Yesus dan para penulis Perjanjian Baru tidak mengutip setiap kitab dalam Perjanjian Lama, tetapi saat mereka mengutip bagian tertentu tersebut mereka melihatnya sebagai kitab yang mempunyai otoritas Tuhan.

Yesus sendiri mengutip Kejadian (Matius 19:4-5), Keluaran (Yohanes 6:31), Imamat (Matius 8:4), Bilangan (Yohanes 3:14), Ulangan (Matius 4:4), 1 Samuel (Matius 12:3-4).
Kemudian Ia berbicara mengenai peristiwa yang mengacu 1 Raja-raja (Lukas 4:25), 2 Tawarikh (Matius 23:35).
Mazmur banyak dikutip Yesus (Matius 21:42; Matius 22:44), Amsal dikutip dalam Lukas 14:8-10, Yesaya (Lukas 4:18-19), Daniel (Matius 24:21), Zakaria (Matius 26:31).

Penulis Perjanjian Baru mengutip Yosua (Ibrani 13:5), Yeremia (Ibrani 8:8-12), Kejadian (Galatia 3:6), Ulangan (Galatia 3:10), Habakuk (Galatia 3:11), Imamat (Galatia 3:12), Mazmur (Ibrani 5:5,6), Yesaya (1 Petrus 1:24-25).

Kutipan-kutipan ada yang didahului "tertulis", "supaya digenapi", "hingga bumi dan langit berlalu" (Matius 5:18), "kamu salah, jika kamu tidak percaya" (Matius 22:29), bahkan "Tuhan berfirman" (Matius 15:4). Pendek kata apa yang tertulis di Perjanjian Lama diperlakukan sebagai perkataan-perkataan Tuhan.

d. Pengajaran Perjanjian Baru tentang kebenaran peristiwa-peristiwa sejarah dituliskan di dalam Perjanjian Lama

Yesus dan penulis-penulis Perjanjian Baru tidak hanya mengutip Perjanjian Lama sebagai tulisan yang diwahyukan, tetapi juga mengajarkan kebenaran peristiwa-peristiwa yang dituliskan di dalam Perjanjian Lama. Yesus sendiri mengajarkan penciptaan Adam dan Hawa (Matius 19), banjir zaman Nuh (Lukas 17:27), Yunus dan ikan besar (Matius 12:40), Mujizat Elia (Lukas 4:25), dan mujizat Musa di padang gurun (Yohanes 3:14, Yohanes 6:32).
Yesus dan penulis-penulis Perjanjian Baru menegaskan kebenaran peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Lama, dan secara garis besar diuraikan sebagai berikut :
- penciptaan (Yohanes 1:3)
- manusia jatuh ke dalam dosa (Roma 5:12)
- pembunuhan Abil (1 Yohanes 3:12)
- banjir zaman Nuh (Lukas 17:27)
- Abraham dan nenek moyang (Ibrani 11)
- penghancuran Sodom dan Gomora (Lukas 17:29)
- pengorbanan Iskak (Ibrani 11:17)
- Musa dan semak yang menyala (Kisah Para Rasul 7:30)
- keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir (1 Korintus 10:1-2)
- mujizat pemeliharaan Tuhan melalui manna (1 Korintus 10:3-5)
- peninggian ular tembaga (Yohanes 3:14)
- jatuhnya kota Yeriko (Ibrani 11:30)
- mujizat Elia (Yakobus 5:17)
- hakim-hakim yang terkenal (Ibrani 11:32)
- raja-raja (Matius 12:41-42)
- Daniel di kandang singa (Ibrani 11:33)
- penolakan nabi-nabi Perjanjian Lama (Matius 23:35).

Dengan penjelasan ini, maka disimpulkan bahwa peristiwa-peristiwa yang dicatat di dalam Perjanjian Lama adalah peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi.

e. Pengajaran Perjanjian Baru mengenai kata dan bagian dari kata Perjanjian Lama sebagai sesuatu yang memiliki otoritas.

Yesus mengatakan dalam Matius 5:18, "Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi."
Jadi Perjanjian Lama adalah punya otoritas hingga sampai bagian terkecilpun.

Sifat pewahyuan Perjanjian Lama

Diwahyukan berarti suci (Yohanes 10:35, 2 Timotius 3:15), dinafaskan oleh Allah (2 Timotius 3:16), digerakkan oleh Roh Kudus (2 Petrus 1:20-21).

Pewahyuan bersifat verbal

Pewahyuan bersifat verbal berarti setiap kata diwahyukan. Dalam Keluaran 24:4, " Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu". Daud berkata: " firman-Nya ada di lidahku"(2 Samuel 23:2). Yeremia diperintahkan untuk "Janganlah kaukurangi sepatah katapun" (Yeremia 26:2). Yesus berulang kali menyatakan Perjanjian Lama mempunyai otoritas dengan mengatakan "ada tertulis... ada tertulis" (Matius 4:4,7). Paulus menegaskan bahwa "perkataan diajarkan oleh Roh" (1 Korintus 2:13). Dan 2 Timotius 3:16 menyatakan bahwa tulisan-tulisan Perjanjian Lama diwahyukan oleh Tuhan.

Pewahyuan secara lengkap

Yesus mengajarkan bahwa seluruh Perjanjian Lama diwahyukan Tuhan. Segala tulisan termasuk tulisan Musa dan para nabi berasal dari Tuhan (Matius 5:17,18) dan harus digenapi (Lukas 24:44). Paulus menambahkan bahwa segala sesuatu dalam Perjanjian Lama ditulis supaya menjadi pelajaran (Roma 15:4). 2 Timotius 3:16 mengajarkan bahwa 'Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran'.

Pewahyuan memiliki otoritas

Otoritas dari pengajaran Alkitab berasal dari perkataan atau firman Tuhan (Roma 3:2). Yesus berkata mengenai otoritas Perjanjian Lama, "Kitab Suci tidak dapat dibatalkan" (Yohanes 10:35). Yesus menegaskan otoritas Perjanjian Lama dengan berulang kali memakai mengutip Perjanjian Lama dalam pengajaran-pengajaran-Nya (Matius 22:29, Markus 9:12). Yesus melawan pencobaan iblis juga dengan 'ada tertulis' (Matius 4:4,7). Firman Allah dalam bentuk tulisan inilah yang menjadi pegangan/otoritas dalam menyelesaikan segala perselisihan mengenai pengajaran maupun hal-hal praktis.

Pewahyuan berarti bahwa segala pengajaran Perjanjian Lama adalah selalu benar. Yesus percaya bahwa Firman Tuhan adalah benar (Yohanes 17:17) dan penulis kitab Ibrani mengajarkan bahwa Tuhan tidak bisa berdusta (Ibrani 6:18). Yesus mengajarkan bahwa setiap 'iota' dan titik dari Perjanjian Lama berasal dari Tuhan. Dengan dengan demikian maka setiap pengajaran dan penulisan Perjanjian Lama adalah selalu benar, tanpa ada satu kesalahanpun.

Kesimpulan

Yesus mengajarkan bahwa Perjanjian Lama adalah tulisan yang diwahyukan Tuhan sehingga Perjanjian Lama adalah tulisan yang mempunyai otoritas. Karena Yesus adalah Tuhan (lihat Keilahian Yesus Yesus), apa yang Yesus ajarkan adalah firman Tuhan. Dengan demikian atas dasar otoritas Yesus sebagai Tuhan, maka dapat disimpulkan bahwa Perjaniian Lama dengan segala pengajaran, peristiwa sejarah dan mujizatnya adalah tulisan yang diwahyukan Tuhan.

Banyak bukti lain bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, seperti nubuat yang digenapi , kesatuan yang menakjubkan, kualitas moral yang sangat tinggi, tersebar secara luas ke seluruh penjuru dunia, dan kekuatannya yang dinamis mengubah manusia.

Bagaimana anda memandang Alkitab? Seberapa anda sudah membaca, memahami dan taat kepada Firman Tuhan yang sudah dituliskan buat anda ini?

Sumber:
Geisler, Norman L., Christian Apologetics, Baker Book House, Grand Rapids, Michigan 49516.

Miriam Santoso, Bibliologi - Pengantar Alkitab, Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang.

Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia 1999.

Sejarah Agama Budha di Indonesia

Agama Buddha bagi bangsa Indonesia sebenarnya bukanlah agama baru. Ratusan Tahun yang silam agama ini pernah menjadi pandangan hidup dan kepribadian bangsa Indonesia tepatnya pada zaman kerajaan Sriwijaya, kerajaan Maratam Purba dan keprabuan Majapahit.
Candi Borobudur, salah satu warisan kebudayaan bangsa yang amat kita banggakan tidak lain cerminan dari kejayaan agama Buddha di zaman lampau.
Sekitar tahun 423 M Bhiksu Gunawarman datang ke negri Cho-Po (jawa) untuk menyebarluaskan ajaran Buddha. Ternyata ia memperoleh perlindungan dari penguasa setempat, sehingga misinya menyebar luaskan ajaran Buddha berjalan lancar. semua ini tercatat di dalambuku Gunawarman dan jika di dasarkan pada buku ini maka kemungkinan besar ia adalah seorang perintid pengembangan agama Buddha di Indonesia pada zaman tersebut.
Berdasarkan catatan dari kerajaan Tang di Tiongkok, pada pertengahan abad ke-7 di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan yang menganut agama Buddha namanya Kaling. Di Tiongkok nama itu lebih dikenal dengan sebutan Ho Ling. Kerajaan ini sangatalah tertib dan tentram walaupun dipimpin oleh seorang wanita tangan besi yang bernama ratu Sima. Ho ling saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan agama Buddha, dan tidak sedikit orang Tionghoa dari dataran Cina datang ke negri tersebut untuk belajar agama Buddha, walaupun pada zaman dinasti Tang agama Buddha telah menjadi agama resmi di negri Cina..
Dalam abad ke-7 dan ke-8 antara India dan Cina terjalin hubungan yang ramai. Hungan tersebut tidak semata-mata di Bidang perdagangan, melainkan juga dalam ilmu pengetahuna dan agama Buddha. Antara tahun 618 hingga 907 Cina diperintah oleh Dinasti Tang, sedang di India dalam abad ke-7 berkuasa raja Harcha yang bersikap toleran terhadap agama Buddha. Maka pada zaman itu banyak musafir dan Bhiksu dari Cina yang berziarah ke tempat-tempat suci agama Buddha di India.
Dalam pertengahan abad ke-7 ini pula Sriwijaya tumbuh dan berkembang menjadi pelabuhan penting di tepi perairan Selat Malaka, urat nadi lalu-lintas penting antara India dan Cina. Selama beberapa abad, kerajaan ini memegang hegemoni lautan. Sriwijaya boleh dikatakan pusat perdagangan dan pusat agama Buddha di Asia Tenggara. Agama Buddha di zaman Sriwijaya adalah agama Buddha aliran Mahayana dengan memahami bahasa Sansekerta.
Antara tahun 850 hingga awal abad-13, kerajaan Sriwijaya diperintah oleh keluarga Syailendra yang pernah berkuasa di Mataram, Jawa Tengah, antara tahun 778-850. Selama 75 tahun berkuasa di Mataram, keluarga Syailendra banyak mendirikan bangunan suci Buddhist berupa candi seperti Candi Kalasan, Plaosan, Sari, Borobudur, Pawon dan Mendut. Sriwijaya kemudian meluaskan kekuasaannya sampai ke Muangthai Selatan yang sekarang disebut Suratani dan Pattani. Candi-candi yang dibuat oleh Sriwijaya di sana antara lain Vihara Mahadhata di Jaiya dan Vihara Mahadhata di Nakorn Sitnamart yang sampai sekarang masih ada dan bentuk bangunan, arca-arca Buddha serta Bodhisattva mirip dengan yang terdapat di Jawa.
Attisa, Bhikkhu yang sangat terkenal dari Tibet yang membangun kembali agama Buddha di negara tersebut pernah datang ke Sumatra dan tinggal di sana dari tahun 1011 - 1023. Ia belajar di bawah bimbingan Dharmakirti, seorang Bhiksu terkemuka di zaman Sriwijaya. berdasarkan catatan biografi Attisa yang di tulis di Tibet, Sumatra adalah pusat utama agama Buddha, sedang Bhiksu Dharmakirti adalah seorang cendekiawan terbesar di zaman itu.
Kedatangan para dharmaduta ke Indonesia mendorong banyak orang pergi berziarah ke India untuk mengunjungi tempat-tempat suci dan pusat-pusat agama Buddha seperti Universitas Nalanda dan lain-lain. Setelah kembali ke Indonesia mereka mendirikan candi-candi dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Agama Buddha yang semula berkembang di Pulau Jawa dan Sumatra adalah beraliran Theravada yang dikembangkan oleh Bhiksu Gunawarman. Lambat-laun aliran ini terdesak oleh aliran-aliran lain yang masuk ke Indonesia setelah mereka mempunyai kedudukan yang kuat di India. Hal ini terlihat dengan berdirinya candi Kalasan yang dipersemabahkan untuk Dewi Arya Tara (personifikasi Prajnaparamita menurut aliran Tantrayana, salah satu sekte agama Buddha Mahayana) pada tahun 779 M. . Dari catatan epigraphic diketahui bahwa salah satu dari raja Syailendra di Jawa mempunyai guru bernama Kumaraghosa dari negri Ganda (Bengal) yang menganut faham Tantrayana. Hal tersebut mendorong berkembangnya agama Buddha Mahayana.
Kehidupan agama Buddha pada masa kerajaan Mataram - I bisa dilihat dari prasasti Conggol, sebelah Barat-daya Magelang, yang dikeluarkan oleh Raja Sanjaya. Pasasti tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 654 Saka (732 M) hari senin tanggal 13 terang bulan Kartika, Raja Sanjaya mendirikan sebuah lingga yang merupakan lambang dari dewa Siwa yang dipuja oleh raja dan rakyatnya. Sanjaya sendiri putera Saimaha, saudara perempuan Raja Sanna yang memerintah sebelum Sanjaya.
Pada masa pemerintahan Raja Panangkaran tahun 775, dinasti Syailendra mulai berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan sehingga kekuasaan dinasti Sanjaya terdesak ke utara Jawa Tengah, yakni sekitar dataran tinggi Dieng. Di sana Sanjaya mendirikan beberapa candi, antara laincandi Bimo, Arjuno, Semar dan Argopuro.
Raja-raja yang berkuasa pada zaman dinasti Syailendra ialah Bhanu (752-775), Wisnu (775-782), Indra (782-812), Samarottungga (812-833) dan Balaputradewa (833-856). Prasasti-prasasti Syailendra ialah prasasti Kalasan pada tahun 778, dengan menggunakan huruf pranagari dan bahasa Sansekerta; prasasti Kelurak dekat Yogya tahun 782, juga memakai huruf pra-nagari dan bahasa Sansekerta; prasasti Karang Tengah dekat Temanggung pada tahun 824 dengan memakai bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno dan prasasti Kahulunan, Kedu, pada tahun 842 yang ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa Kuno.
Selama pemerintahan Syailendra, banyak bangunan candi yang didirikan sebagaimana telah disinggung di atas. Satu diantara candi-candi yang tersohor adalah Borobudur yang didirikan pada masa Raja Samarottungga. Candi Sajiwan dan Plaosan dibangun pada masa pemerintahan suami-isteri Rakai Pikatan-Pramodawardhani (puteri Samarottungga). Nampaknya pengaruh Pramodawardhani sangat besar, sehingga yang dibangun adalah candi bercorak Buddha. Raja Rakai Pikatan sendiri beragama Siwa (Hindu). Jelas pada masa itu terdapat rasa toleransi agama yang besar.
Perkawinan Rakai Pikatan yang beragama Siwa dan Pramodawardhani yang beragama Buddha bersifat politis untuk menghadapi Balaputra yang sedang berkuasa, selain untuk mencapai kerukunan antara dua dinasti yang sedang bersaing dan bahkan saling bertentangan. Balaputra dan saudaranya, Pramodawardhani bersaing untuk menduduki jabatan Raja Mataram setelah ayah mereka, Samarottungga meninggal dunia. Balaputra berhasil naik tahta antara tahun 833 - 856, tetapi akhirnya benteng pertahanan Balaputra dirobohkan juga oleh persekutuan Rakai Pikatan Pramodawardhani, dengan demikian maka hanculah benteng terakhir dinasti Syailendra di Jawa Tengah sebelah Selatan desa Prambanan.
Sejak pemerintahan Rakai Pikatan, dan kemudian disusul oleh Rakai Kayuwangi (856-886), Rakai Watukumalang (886-898), Balitung (898-910), Daksa, Tulodong dan Wawa, pemerintahan dinasti Sanjaya semakin berkembang. Pada masa Raja Wawa, pusat kekuasaan Mataram dipindahkan ke Jawa Timur, sehingga peranan Jawa Timur selama dua abad kemudian berhasil menggantikan kedudukan Jawa Tengah.
Ada dua pendapat tentang apa sebabnya pusat pemerintahan kerajaan Mataram dipindahkan yang ditandai juga dengan perpindahan massal rakyat ke Jawa Timur. Pertama,mereka yang berpendapat perpindahan itu akibat meletusnya gunung Merapi yang banyak menimbulkan bencana dan korban. Menurut kepercayaan rakyat, meletusnya gunung Merapi menunjukkan kemarahan para dewa. Pendapat ke-dua, karena tarikan faktor ekonomi di Jawa Timur yang semakin besar, di mana perdagangan dan pelayaran laut dan sungai kian rarnai.
Babak pertama pemerintahan Mataram di Jawa Timur dipegang oleh dinasti Isana, nama yang diambil dari nama Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadjarmotunggadewa, gelar Mpu Sendok. Bagaimana Mpu Sendok naik tahta kurang dutetahui. Namun diduga melalui perkawinannya de putri Wawa. Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkannya, ternyata Mpu Sendok banyak menaruh perhatian pada perdagangan dan pelayaran di kali Brantas selain pertanian. Mpu Sendok juga dikenal Raja yang memerintah dengan lebih demokratis dan menaruh minat pada soal-soal hukum serta kesusastraan• Pada masa pemerintahan Mpu Sendok-lah di
Mpu Sendok sendiri penganut agama Hindu, sehingga timbul kesan adanya toleransi agama yang sangat kuat di masa itu. Nampaknya antara agama Hindu yang dianut di Kutai, Taruma dan Mataram pada satu pihak dan agama Buddha yang dianut Sriwijaya dan Mataram (masa dinasti Syailendra) di lain pihak pernah terjadi persaingan dan perbenturan. Narnun kemudian terjadi toleransi yang diawali oleh perkawinan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Hal mana dilanjutkan pada masa pemerintahan Isana dan kemudian terjadi "pembauran" antara Hindu dan Buddha sehingga batas kedua agama itu semakin kabur pada masa Singosari dan Majapahit. Pembauran kedua agama ini masih dapat disaksikan di Jawa dan Bali.
Diantara raja-raja keturunan Mpu Sendok, yang paling berhasil adalah Airlangga. la adalah seorang raja yang ditaati oleh rakyatnya yang rela menyerahkan segala milik mereka demi kepentingan pemerintahaan Airlangga. Airlangga berhasil membawa kerajaan Mataram pada puncaknya; tapi Airlangga pula yang meruntuhkan kerajaan itu.
Runtuhnya kerajaan Mataram sudah berada di ambang pintu tatkala Sanggramatunggadewi, orang kedua yang pantas menduduki tahta sesudah Airlangga, menolak jabatan besar tersebut. la lebih suka memilih hidup suci sebagai petapa di Pucangan, gunung Penanggungan, dengan nama Kili Suci. Maka, Airlangga terpaksa minta bantuan Mpu Bharada yang sakti untuk membagi kerajaannya kepada kedua putranya, Jenggala (Singasari) di bagian Timur dan Kediri di bagian Barat pada tahun 1041. Airlangga sendiri menjadi petapa pada tahun 1042 dengan nama Resi Gentayu sampai wafat pada tahun 1049 dan dimakarnkan di Tirtha, tempat permandian Jalatunda dekat desa Belahan di sebelah Timur gunung Penanggungan.
Airlangga sebagai penjelmaan Wishnu diwujudkan dalam bentuk Wishnu sedang naik seekor burung Garuda.
Kerajaan Majapahit adalah Negara Kesatuan Indonesia kedua setelah Sriwijaya yang dibangun oleh umat Buddha dan Hindu. Umat Buddha dan Hindu dalam zaman keprabuan Majapahit, berhasil mengantarkan bangsa Indonesia memasuki zaman keemasannya. Kejayaan keprabuan Majapahit dapat terwujud antara lain disebabkan karena adanya kerukunan intern umat Buddha dan kerukunan intern umat Hindu serta adanya kerukunan hidup antara umat Buddha dan umat Hindu pada zaman itu. Maharaja Hayam Wuruk dalam menjalankan pemerintahannya didampingi oleh penasehat agung dalam keagamaan yakni Dharmadhyaksa Ring Kasongatan dan golongan Buddha dan Dharmadhyaksa Ring Kasewan dari golongan Hindu. Kerukunan hidup umat beragama pada zaman Majapahit dirintis dan dipelopori oleh Pujangga Buddhis yang agung, Mpu Tantular. Dalam bait syair yang ada di dalam buku yang ditulisnya yakni kitab "SUTASOMA" pujangga besar Mpu Tantular menulis: "Siwa Buddha Bhinneka Tunggal lka Tan Hana Dharma Mangrwa". Kalimat sakti yang dapat mempersatukan umat beragama dan rakyat Majapahit pada waktu itu, yakni Bhinneka Tunggal lka, sekarang merupakan kalimat sakti pemersatu bangsa Indonesia dan ditulis dalam lambang negara Garuda Pancasila.
Setelah keprabuan Majapahit mengalami zaman keemasan, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya Gajah Mada yang beragama Buddha, akhirnya mengalami keruntuhan karena kerukunan hidup umat beragama serta persatuan kesatuan rakyat". Majapahit tidak dapat lagi dipertahankan. Terjadinya perpecahan dan pertentangan yang tidak henti-hentinya akhirnya membawa Majapahit sirna dari muka bumi ini. Bersama dengan itu agama Buddha juga mengalami pasang surut dalam perkembangannya, kemusnahannya semakin nyata dalam zaman penjajahan Belanda. Narnun demildan, dalam zaman penjajahan Belanda pula agama Buddha mulai dipelajari dan dihayati oleh generasi muda yang terhimpun dalam Perhimpunan Theosofi Indonesia dan Sam Kauw.
Agama Buddha Dalam Zaman Penjajahan
Pada zaman penjajahan Belanda, di Indonesia hanya dikenal adanya tiga agama yakni agama Kristen Protestan, Katolik dan Islam sedangkan agama Buddha tidak disebut-sebut. Hal ini adalah salah satu sikap Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu. Dengan demikian agama Buddha dapat dikatakan sudah sima di bumi Indonesia, tetapi secara tersirat di dalam hati nurani bangsa Indonesia, agama Buddha masih tetap terasa antara ada dan tiada.
Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda di Jakarta didirikan Perhimpunan Theosofi oleh orang-orang Belanda terpelajar. Tujuan dari Theosofi ini mempelajari inti kebjaksanaan semua agama dan untuk menciptakan inti persaudaraan yang universal. Theosofi mengajarkan pula kebijaksanaan dari agama Buddha, di mana seluruh anggota Thesofi tanpa memandang perbedaan agama, juga mempelajari agama Buddha. Dari ceramah-ceramah dan meditasi agama Buddha yang diberikan di Loji Theosofi di Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, Surabaya dan sebagainya, agama Buddha mulai dikenal, dipelajari dan dihayati. Dari sini lahirlah penganut agama Buddha di Indonesia, yang setelah Indonesia merdeka mereka menjadi pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia.
Dalam zaman penjajahan Belanda, di Jakarta timbul pula usaha untuk melestarikan ajaran agama Buddha, Khong Hucu dan Lautse dan usaha mana kemudian lahir Organisasi Sam Kauw Hwee yang bertujuan untuk mempelajari ketiga ajaran agama dan kepercayaan tersebut. Dari sini pula kemudian lahir penganut agama Buddha, yang dalam zaman kemerdekaan agama Buddha bangkit dan berkembang.
Dalam tahun 1932 di Jakarta telah berdiri International Buddhist Mission Bagian Jawa dengan Yosias van Dienst sebagai Deputy Director Generalnya. Tahun 1934 telah diangkat A. van der Velde di Bogor dan J. W. de Wilt di Jakarta masing-masing sebagai Asistant Director yang membantu Yosias van Dienst.
Setahun sebelum berdirinya International Buddhis Mission Bagian Jawa, tepatnya tahun 1931, di Jakarta terbit majalah Mustika Dhamia yang dipimpin oleh Kwee Tek Hoay. Majalah Mustika Dharma mernuat tentang pelajaran Theosofi, tentang agama Islam, tentang sari pelajaran dan Yesus, ajaran Krisnamurti, terutama mengenai ajaran agama Buddha (Buddha Dhamia), Khonghucu dan Lautse. Majalah Mustika Dharma besar jasanya dalam menyebar luaskan kembali agama Buddha, sehingga agama Buddha mulai dikenal, dimengerti, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan. Atas prakarsa dari Kwee Tek Hoay kemudian lahir organisasi Sam Kauw, organisasi yang mempelapori kebangkitan agama Buddha disamping Perhimpunan Theosofi Indonesia, dan Pemuda Theosofi Indonesia, setelah Indonesia Merdeka.
Naiada Thera
Tanggal 4 Maret 1934 Narada Thera menginjakkan kakinya di pelabuhan Tanjung Priok, disambut oleh Yosias van Dienst dan Tjoa Hin Hoay dan beberapa umat Buddha. Narada Thera adalah bikhhu yang pertama datang dari luar negeri setelah berselang kira-kira lima ratus tahun. Narada Thera telah memberikan ceramah agama Buddha di loji-loji Theosofi dan di Klenteng-klenteng di Bogor, Jakarta, Yogya, Solo dan Bandung. Di Candi Borobudur pada tanggal 10 Maret 1934 Narada Thera turut hadir dalam upacara penanaman pohon bodhi yang cangkokannya dibawa oleh lr. Meertenas dari Buddhagaya, India. Pohon bodhi yang telah tumbuh besar di Candi Borobudur itu kemudian dimatikan, karena merusak bangunan candi. Duta Besar Srilangka menyerahkan lagi cangkokan pohon. Pohon bodhi tersebut ditanam di kawasan luar Candi Borobudur disaksikan oleh Gubernur Supardjo Rustam. Pohon bodhi dari Duta Besar Srilangka itu adalah cangkokan dari pohon bodhi yang sampai sekarang masih tumbuh di Anuradhapura di Srilangka yang dahulu dibawa oleh Raja Mahinda ke Srilangka.
Java Buddhist Association yang telah menerbitkan majalah Namo Buddhaya dalam bahasa Belanda telah banyak menarik perhatian dan minat orang-orang Cina, yang pada waktu itu telah banyak menganut agama lain, dan telah mengganti tradisi serta adat istiadat leluhurnya dengan kebiasaan Barat. Kemudian tahun 1932 Kwee Tek Hoay membentuk Sam Kauw Hwee yang anggotanya terdiri dari penganut agama Buddha, Khonghucu dan Laocu. Sam Kauw Hwee menerbitkan majalah Sam Kauw Gwat Po dalam bahasa Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, Sam Kauw Hwee kehilangan Ketuanya dengan meninggalnya Kwee Tek Hoay tahun 1952. Sam Kauw Hwee lalu diorganisir kembali dengan masuknya beberapa organisasi kedalamnya, antara lain Tian Lie Hwee dibawah pimpinan Ong Tiang Biauw yang kemudian menjadi Bhikkhu Jinaputta. Sam Kauw Hwee kemudian menjadi Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) dengan Ketuanya yang pertama adalah The Boan An, yang sekarang dikenal sebagai Maha Sthavira Ashin Jinarakkhita Maha Thera. Dalarn tahun 1962 dibawah pimpinan Drs. Khoe Soe Khiam, GSKI dirubah namanya menjadi Gabungan Tri Dharma Indonesia dengan majalahnya bemama Tri Budaya.
Perkembangan Agama Buddha Sejak Kemerdekaan R.I.
Perhimpunan Theosofi y.ang bertujuan untuk membina persaudaraan universal melalui penghayatan pengetahuan tentang semua agama termasuk agama Buddha, telah menarik perhatian dan minat orang-orang Indonesia terpelajar. Dari mempelajari agama Buddha kemudian timbullah dorongan untuk menghayati dan mengamalkan ajaran agama Buddha. Dari sinilah bermulanya orang-orang Indonesia terpelajar mengenal agama Buddha sampai akhirnya menjadi penganut Buddha Dharma. Orang-orang Indonesia terpelajar yang kemudian menjadi umat Buddha melalui Theosofi antara lain M.S. Mangunkawatja, Ida Bagus Jelanti, The Boan An, Drs. Khoe Soe Khiam, Sadono, R.A. Parwati, Ananda Suyono, I Ketut Tangkas, Slamet Pudjono, Satyadharma, lbu Jamhir, Ny. Tjoa Hm Hoey, Oka Diputhera dan lain-lainnya. Meskipun theosofi tidak bertujuan untuk membangkitkan kembali agama Buddha narnun dari theosofi ini lahir penganut agama Buddha yang kemudian setelah Indonesia merdeka menjadi pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia. Karena itu baik Perhimpunan Theosofi Indonesia maupun Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia secara tidak langsung mempunyai andil yang besar dalam kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia.
The Boan An yang menjadi pimpinan GSKI dan Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia, kemudian ditahbiskan menjadi Bhikkhu di Burma dengan nama Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Sejak 2500 tahun Buddha Jayanti, tepatnya tahun 1956 saat kebangkitan kembali agama Buddha di bumi Indonesia, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita-lah yang memimpin kebangkitan kembali agama Buddha ke seluruh lndonesia. Karena itu Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dinyatakan sebagai Pelopor Kebangkitan agama Buddha secara nasional di Indonesia. Dari bhikkhu Ashin Jinarakkhita lahir tokoh-tokoh umat Buddha di Indonesia seperti Sariputra Sadono, K. Karbono, Soemantri MS, Suraji Ariakertawijaya, Oka Diputhera, I Ketut Tangkas, Ida Bagus Gin dan pimpinan Buddha lainnya yang sampai sekarang masih aktif dalam organisasi Buddhis dan ada pula di antaranya telah menjadi Bhikkhu scperti Ida Bagus Gin vane sekarang dikenal dengan nama Bhikkhu Girirakkhito.
Jadi dari Gabungan Tri Dharma Indonesia dan Perhimpunan Theosofi Indonesia serta Perhimpunan Pemuda Theosofi Indonesia lahir penganut-penganut agama Buddha yang kemudian bersama-sama dengan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita mempelopori kebangkitan kembali agama Buddha dalam tahun kebangkitannya yakni tahun 1956. Nama-nama yang mendampingi Bhikkhu Ashin Jmarakkhita dalam mempelopori kebangkitan kembali agama Buddha dalam era 2500 tahun Buddha Jayanti tahun 1956 antara lain M.S. Mangunkawatja, Sariputra Sadono, Sasanasobhana, Sosro Utomo, I Ketut Tangkas, Ananda Suyono, R.A. Parwati, Satyadharma, lbu Jayadevi Djamhir, Pannasiri Go Eng Djan, Ida Bagus Giri, Drs. Khoe Soe Khiam, Ny. Tjoa Hin Hoey, Harsa Swabodhi, Krishnaputra, Oka Diputhera dan sebagainya.
Organisasi Buddhis yang mempersiapkan kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia adalah International Buddhis Mission Bagian Jawa dibawah pimpinan Yosias van Dienst, yang banyak mendapat bantuan dari Perhimpunan Theosofi dan Gabungan Sam Kauw.
Organisasi Buddhis yang mempelopori kebangkitan danperkembangan agama Buddha di Indonesia sejak tahun 1950-an ialah Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) yang diketuai oleh Sariputra Sadono, kemudian oleh Karbono, Soemantri MS, Oka Diputhera (Sek. Jen) sampai kemudian berganti nama menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI) yang kemudian menjadi Majelis Upasaka Pandita Agama Buddhayana Indonesia. Yang membentuk PUUI adalah Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dalam tahun 1954, sebagai pembantunya dalam menyebarkan agama Buddha di Indonesia.
Kemudian Bhikkhu Ashin Jinarakkhita merestui berdirinya Perhimpunan Buddhis Indonesia tahun 1958 dengan Ketua Urnunanya Sariputra Sodono dan Sek. Jen. Sasana Sobhana. Kemudian Ketua Umum PERBUDHI adalah Soemantri MS dengan Sek. Jen. Oka Diputhera. Perbudhi kemudian dilebur menjadi Budhi bersama-sama dengan organisasi Buddhis lainnya.
Dalam tahun 1958 berdiri Sangha Suci Indonesia yang kemudian ganti nama menjadi Maha Sangha Indonesia. Maha Sangha Indonesia kemudian pecah melahirkan Sangha Indonesia. Dengan demikian di Indonesia terdapat dua Sangha yakiri Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia.
Maha Sangha Indonesia dipimpin oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita dan Sangha Indonesia dipimpin oleh Bhikkhu Girirakkhito.
Tahun 1974 atas prakarsa Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha, Gde Pudja MA, telah diadakan perternuan antara Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia. Hasil dan perternuan tersebut melahirkan Sangha Agung Indonesia yakni gabungan dari Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia. Sebagai Maha Nyaka Sangha Agung Indonesia terpilih Sthavira. Ashin Jinarakkhita.
Kemudian setelah Kongres Umat Buddha Indonesia di Yogyakarta, di Indonesia terdapat tiga kelompok Sangha, yakni Sangha Agung Indonesia, Sangha Theravada Indonesia dan Sangha Mahayana Indonesia yang sernuanya tergabung dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI).
Sangha Mahayana Indonesia dibentuk tahun 1978. Dewasa ini pengurusnya terdiri atas Bhiksu Dharmasagaro (Ketua Urnum), Bhiksu Dharmabatama (Ketua 1), Bhiksu Sakyasakti (Ketua II), Bhiksu Dutavira (Sekretaris Urnum), Bhiksu Dhyanavira (Sekretaris 1) dan Bhiksu Andhanavira (Sekretaris II). Sangha Mahayana Indonesia inilah yang, mencetuskan ide pembangunan Pusdikiat Buddha Mahayana Indonesia. Cita-cita Sangha adalah menyebarluaskan ajaran Buddha Mahayana di Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia serta menterjemahkan kitab-kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa Indonesia.
Mengingat upacara-upacara ritual agama Buddha dewasa ini urnumnya masih menggunakan aksara Mandarin, maka sejak 1982 Bhiksu Dutavira dengan tidak mengenal lelah dan dengan kemampuan terbatas yang dimikinya berusaha mengembalikan bentuk-bentuk upacara dalam aksara Sansekerta serta bahasa Indonesia. Hal ini telah diterapkan di II propinsi di Indonesia dengan memperoleh sambutan antusias sekali, khususnya dari para umat Buddha Mahayana. Apa yang dilakukan oleh Bhiksu Dutavira selama 4 tahun itu boleh dikatakan semacam merintis proyek pilot Pusdiklat Mahayana.
Kini dirasa semakin mendesak untuk meningkatkan proyek pilot tadi dalam bentuk pusdikiat modern yang serba lengkap dan yang didukung pula oleh para akhli agama Buddha baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Rencana ini telah memperoleh izin prinsip dari Departemen Agama R.I. cq. Ditjen Bimas Hindhu—Buddha.